05 September, 2009

SEORANG SUFI DAN AHLI MAKSIAT

Suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu, dan tak pernah bosan berzina. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai tuan guru, aku seorang pendosa yang rasanya tak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.

Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu." Orang itu terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut pun." Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?" Orang itu lalu tertunduk dan berkata,"katakanlah yang kedua, Tuan guru!" Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah." Pendosa itu kembali terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua." Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya?" "Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru." Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah." Orang itu tersentak, "Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?" Ibrahim bin Adham menjawab,"Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?" Orang itu kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya lalu berkata, "Katakanlah yang keempat, Tuan guru." Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut." Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?" Ibrahim bin adham menjawab, "Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih jua berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?" Air mata menetes semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata, "Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima." Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu." Pemuda itupun berkata, "Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali? Ibrahim bin Adham pun lalu berkata, "Oleh karena hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?" pemuda itupun langsung pucat, dan dengan surau parau menahan ledakan tangis ia mengiba, "Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya." Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.

Semoga kisah ini menjadi renungan bagi kita bersama dalam menapaki setiap langkah kita selagi hidup di dunia.

KISAH PEMUDA ARAB DI USA

Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.

Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja.

Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.

Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.” Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.

Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, “Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.” Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta, “Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim.” Pendeta itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.” Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.

Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.”

Si pemuda tersenyum dan berkata, ”Silahkan!”

Sang pendeta pun mulai bertanya,

1. Sebutkan satu yang tiada duanya,
2. dua yang tiada tiganya,
3. tiga yang tiada empatnya,
4. empat yang tiada limanya,
5. lima yang tiada enamnya,
6. enam yang tiada tujuhnya,
7. tujuh yang tiada delapannya,
8. delapan yang tiada sembilannya,
9. sembilan yang tiada sepuluhnya,
10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11. sebelas yang tiada dua belasnya,
12. dua belas yang tiada tiga belasnya,
13. tiga belas yang tiada empat belasnya.
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”

Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca basmalah ia berkata,
1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman,
”Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’: 12).
3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.
5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis.
Allah SWT berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk: 3).
8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman.
Allah SWT berfirman,”Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit.
Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).
9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa :
tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan *
10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan.
Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).
11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf .
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,
“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman,
‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.”(Al-Baqarah:60).
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh.
Allah SWT berfirman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (At-Takwir: 18).
15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya,
“Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,”
tak ada cercaaan terhadap kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata,
“Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” (Luqman: 19).
18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim.
Allah SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).
20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya
wanita, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu
sangatlah besar.” (Yusuf: 28).
22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun,
setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran
matahari
maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.

Pemuda ini berkata, “Apakah kunci surga itu?”
Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.

Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata, ”Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!”

Pendeta tersebut berkata, ”Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.

” Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan anda.”
Sang pendeta pun berkata, ”Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah.”

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.**

* Penulis tidak menyebutkan yang kesembilan (pent.)
** Kisah nyata ini diambil dari Mausu’ah al-Qishash al-Waqi’ah

Sumber : www.gesah.net

25 Agustus, 2009

Khutbah Rosulullah SAW

“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.

Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”)

Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.

Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”

(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.)

Al MA'TSURAT

adalah kumpulan wirid yang disusun oleh Asy Syahid Hasan Al-Banna – Tokoh pergerakan Islam dari Mesir

Terdiri dari ayat-ayat pilihan dan lafadz dari hadits Rosulullah yang biasa beliau amalkan dalam wiridnya. Dinamakan Al Ma'tsurat, karena memang semua yang ada dalam kumpulan wirid ini dituntunkan oleh Rosulullah saw.
Kata Ma'tsur artinya yang dituntunkan (ada riwayatnya) oleh Rosulullah saw.

Membaca wirid merupakan salah satu sarana dzikir (mengingat Allah) disamping sarana-sarana yang lain. Setiap mukmin harus senantiasa mengingat Allah dalam setiap kesempatan.

Yang demikian itu akan menguatkan hati dan menjaga kestabilan jiwanya.Dzikir kepada Allah setiap saat, juga merupakan karakter ulul albab (orang-orang yang berakal).

"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring..." (Ali Imran :191)

Jamaah Ikhwanul Muslimin yang dirintis oleh Asy Syahid Hasan Al-Banna ingin membina setiap mukmin menjadi sosok manusia seutuhnya. Disamping tarbiyah aqliyah dan jasadiyah, dicanangkan juga tarbiyah ruhiyah. Setiap anggota Ikhwan dituntut untuk senantiasa ber-ittiba’ kepada sunnah Nabi saw. Diantaranya dengan mengamalkan wirid beliau setiap hari.

" Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah " (Al Ahzab : 21)

" Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang "
(Al Ahzab : 41-42)

Cukuplah kiranya hadits berikut untuk menjelaskan keutamaan berdzikir dan para pelakunya:

Dalam hadits qudsi Allah berfiirman, " Aku ada pada persangkaan hamba-Ku Kepada-Ku.
Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam sebuah jamaah, Aku akan menyebutnya di dalam jamaah yang lebih baik dari mereka." (Mutaffaq alaih).
= = = = =
Tiap Pagi dan Sore (Usai Sholat Shubuh dan Maghrib)
- Membaca Al Fatihah
- Al Baqarah : 1-5,255-257,284-286
- Ali Imran : 1 – 2
- Thaaha : 111 – 112
- At-Taubah : 129 (dibaca 7x)
- Al Isra’ : 110 – 111
- Al-Mu’minun : 115 – 118
- Ar Rum : 17 – 26
- Al Mukmin : 1 – 3
- Al Hasyr : 22 – 24
- Az Zalzalah
- Al Kafirun
- An Nashr
- Al Ikhlas (3x)
- Al Falaq (3x)
- An Naas (3x)



Dalil / Riwayat :
1. Allah SWT, berfirman :

“ Maka jika kamu membaca Al Qur’an, mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan Syetan yang terkutuk.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Anas ra. dari Nabi saw bahwa beliau bersabda :
“ Barang siapa diwaktu pagi mengatakan, a’’udzu billahis sami’il aliim mina syathonir rojiim.”, dia akan dibebaskan dari gangguan syetan hingga sore.

2. Hadits Ubay bin Ka’ab ra. menceritakan bahwa Rosulullah saw. bersabda :

“ Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, tidaklah diturunkan dalam Taurat, Zabur, Injil, atau Furqan yang sebanding dengan Al-Fatihah. Sesungguhnya Al-Fatihah merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung yang diturunkan kepadaku.” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan, “hadits hasan shahih.”)

Juga diriwayatkan oleh AbuDawud dan lainnya dengan sanad dari Ubay bin Ka’ab dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda,

“ Setiap hal penting dari yang tidak dimulai dengan ‘Bismillahir rahmanir rahiim’, maka hal itu terputus.”
Artinya, hal itu terputus dari rahmat Allah.

3. Diriwayatkan oleh Ad-Darami dan Al-Baihaqi dalam Asy Syuab dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa dia berkata,

“ Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari surat Al-Baqarah di permulaan siang, maka ia tidak akan didekati setan sampai sore. Dan jika membacanya sore hari, maka ia tidak akan didekati oleh setan sampai pagi dan ia tidak akan melihat sesuatu yang dibencinya pada keluarga dan hartanya.”

Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-kabir dan Al-hikam dalan shahihnya, dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Nabi saw. bersabda,

“Barangsiapa membaca sepuluh ayat, empat ayat dari awal surat Al-Baqarah, ayat kursi dan dua ayat sesudahnya, serta ayat-ayat terakhir dari Al-Baqarah tersebut, maka rumahnya tidak akan dimasuki oleh setan sampai pagi.”

Namaku Annida

Namaku Annida, tapi bukan karena suatu majalah Islam, ortuku ngasih nama kaya gitu, bahkan aku mengenal majalah itu setelah aku mendapatkan status mahasiswa sekolah tinggi, tapi ya..mungkin udah dari sononya kata orang bilang.

Beberapa minggu aku memasuki dunia baru dalam kehidupanku. Awalnya sih lumayaan sasing bagiku, mendapat perlakuan yang hangat dari senior-seniorku, terasa sekali ikatan persaudaraan disikapnya, terlebih lagi mungkin aku yang sekarang jauh dari ortu. Selain itu sebagian besar dikampus ini mengenakan jilbab, beda sekali dengan asalku yang bisa dihitung dengan jari orang yang sudah sadar memakainya.
Sampai sampai aku bertanya, “ ini kampus atau pesantren? Atau kampus pesantren?. “
Never mind, yang penting aku bisa mengembangkan diri disini menjadi anak yang berbakti bagi nusa dan bangsa, cieee..nasionalis nih!

Ngeliat seniorku lama-lama terbersit juga keinginan untuk ikut memakai jilbab, ya ..takut juga sich, kalo-kalo nggak lama alias tidak istiqomah! Aku kan masih suka ini itu, masih jauhlah dari pada Islam, jangan-jangan ya..jangan-jangan? A’udzubillah…dasar setan, ngalangin orang dari ibadah!! Bismillah..moga Allah makin mantapin hatiku, dan akupun mutuskan untuk memakainya.

Pertama sih gerah juga..maklum engga terbiasa! Tapi aku yakin paling-paling itu ujian keimanan. Bahkan teman satu kelompookku pun pernah mengejekku, “ elu barusan makai jilbab aja udah belagu!” Mungkin belum terlatih kesabaranku, dalam hati aku membalasnya, “ Mending dari pada elu! Dibuka abis!!

Ya..perjalanan waktu memang terasa cepat bagiku, aku enggak pernah nyangka kalo keputusanku mengubah segalanya pada diriku. Seiring dengan ilmu yan aku peroleh, masalah jilbab, perihal pergaulan, atau pokok-pokok keislaman yang lain. Ternyata selama ini begitu banyak coretan hitam dalam lembaran kehidupanku. Tapi ku yakin Allah Maha Penganpun bagi hamba-Nya yang bertobat.

Suatu hal yang memotivasi keputusanku memakai jilbab adalah mengenakannya merupakan amalan yang bernilai ibadah dengan pahala yang terus-menerus tak terputus oleh waktu.

Tapi kenapa ya..masih banyak yang engga mau balasan yang dijanjikan Allah terus-menerus kepada hamba-Nya? Mungkin alas an mereka seperti aku dulu juga. Takut engga kuatlah ! Masih awamlah! Atau mungkin sejuta strategi syaiton memasuki keraguan padanya.

Rupanya ejekan teman kelompokku sangat bermanfaat bagiku. Minimal ia menjadi cambuk bagiku membuktikan makna jilbab yang kupakai. Dan hari ini saksikanlah aku seorang muslimah, Allah Ta’ala tujuanku, Muhammad SAW teladanku, Al Qur’an penuntunku, Jihad jalanku, dan Syahid cita-cita tertinggiku.

Allah terima kasih Engkau tunjukkan jalan kebenaran ini! Tunjukkan juga kepada mereka jalan ini. Amiin Ya Robbal Alamiin.

Tunggu Apalagi (Ramadhan)
= = = = =
Q.S An Nuur : 31.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Q.S Al Ahzabb : 31.
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

- - - -
Maz-Ozie.blogspot.com

Pelajaran Seorang Akhwat

WE ARE MOSLEM
Seorang akhwat berjilbab rapi tampak semangat mengajarkan sesuatu kepada Murid-muridnya, ia duduk menghadap murid-muridnya, “Bu guru punya Kitab, Ibu letakkan di tengah karpet, nah sekarang kalian berdiri diluar karpet lalu gamesnya adalah bagaimana caranya mengambil Kitab yang ada ditengah karpet tanpa menginjak karpet?”

Nah, murid-muridnya berpikir keras, ada yang punya alternatif dengan tongkat dan lain-lain, akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar ia gulung karpetnya, dan ia ambil Kitabnya dan ia memenuhi syarat tidak menginjak karpet.

"Anak-anak", Begitulah Ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah, Preman pun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka, tapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar..

Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita, ia tidak akan menghantam terang-terangan tapi ia akan perlahan-lahan mencopot kalian, mulai dari perangai kalian, cara hidup kalian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara-cara mereka dan itulah yang mereka inginkan.

Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran) dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh kalian, paham anak-anak ???
Anak - Anak : Paham..Buu
-----

Jati Diri Islam

SELALU BERSAMA KITA

Suatu ketika Abdullah bin Umar bersama Abdurrahman berada di padang pasir terik menuju kota Makkah, mereka tampak kelelahan dan kehausan. Abdullah bin Umar berkata, “Alangkah besarnya kebutuhan kita pada seteguk air untuk penawar dahaga kita yang hebat ini, demi Allah aku tak sanggup lagi menahan rasa haus. Sambil berjalan mereka berbicara saling menasehati.
Tiba-tiba mereka diam dan tertegun melihat benda hitam di tengah padang pasir, ternyata gerombolan hitam itu adalah gembalaan kambing dan seorang pengembala yang tengah tidur. Pengembala terbangun daan mempersilahkan tamunya untuk duduk ditempat teduh, diperahnya susu kambing dan diberikan baskom kepada mereka berdua.
“ Silahkan minum air susu ini, mudah-mudahan mengurangi rasa letih tuan-tuan.”. Abdullah dan Abdurrahman minum dan bersyukur atas karunia Allah. Mereka mengucapkan terima kasih.

Diberikannya sisa susu untuk diminum oleh sang penggembala. Ternyata pengembala itu tengah berpuasa di tengah hari yang panas setelah didesak terus mengapa ia tidak mau minum susu.
Mereka berdua semakin heran dengan sikap si penggembala yg aneh sehingga ingin mengujinya.

Penggembala tampak kebingungan saat mereka minta makan sementara ia tidak punya makanan. Kebingungan bertambah ketika mereka meminta seekor kambing untuk dimakan bersama. “Kalau kau merasa berat untuk melakukannya aku siap membantumu”, pinta Abdullah bin Umar.

Kambing-kambing itu bukan milikku, saya hanyalah seorang budak. Majikanku hanya memberi ijin untuk memberi minum muafir tetapi belum mengijinkan saya untuk memotong kambingnya, Rumah majianku berada sejauh perjalanan 3 malam”, menjawab pertanyaan Abdullah. Abdullah bin Umar dan Abdurrahman penasaran dengan sikap yang ditunjukkan budak mulia itu.

Abdullah menawar agar kambingnya dijual dan mau memberikan harganya tapi ditolak dengan ucapan “Bagaimana kalau majikanku tidak menerima harga itu?” Pertanyaan mengalir dari Abdullah “Bukannya majikanmu tidak melihat, katakan kambingmu dimakan serigala!”

“ Kalaulah demikian dimana Allah..? Dimana Allah?” jawab sang penggembala.

Dari kisah diatas budak penggembala tersebut telah memperlihatkan jati diri Islam dalam seluruh aspeknya. Dia merasa diawasi oleh Allah SWT dalam seluruh gerak langkah hidupnya. Ia tidak mau berbuat yang dilarang-Nya. Ia tidak mau menghianati majikannya. Ia telah memahami ma’iyatullah bahwa ia sadar Allah selalu bersama dan memperhatikannya.

Diam

DIAM
Oleh : Ustadz Arifin Ilham
Assalamu'alaikum Wr Wb

Puasa adalah diam, tentu bukan sembarang diam, bukan takut kebenaran, bukan karena bodoh, tetapi diam adalah bernilai ibadah karena sedang berpuasa. Kalau diamnya saja bernilai ibadah apalagi kalau beraktivitas ibadah dan beramal saleh, membaca Al Quran, menuntut ilmu, sedekah, mencari nafkah yang halal sampai berdakwah. Maka sungguh pantaslah mereka berpuasa mendapat nilai berlipat ganda dari Allah SWT. Subhanallah.

Diamnya orang mukmin adalah tafakur dan tadabbur. Dari mana aku? Di mana aku? Kemana aku akhirnya? Rotasi dan evolusi alam ini dalam bilion-bilion galaksi yang mencengangkan para kosmolog, renungan inilah membuat orang beriman itu sujud tersungkur diharibaan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS Qaf ayat 18, "Tidaklah berkata satu kata kecuali dicatat oleh Malaikat Roqib dan Atid."

Rasulullah SAW pun mengingatkan, barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhirat hendaklah berkata baik, benar, jujur, sopan, santun, mulia kalau tidak maka diam.”

Karena itu aktivitas lisan orang mukmin hanya dua, kalau tidak bisa bicara baik maka diam, tetapi kalau bisa bicara baik itu lebih baik dari pada diam.

Sungguh tepat sikap Siti Maryam menghadapi fitnah dengan diam, ”Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa – berdiam untuk Tuhan Yang Maha Kuasa maka aku tidak berbicara dengan siapa pun pada hari ini."

Ada waktu untuk bicara, ada tempatnya untuk bicara bahkan kadang tidak hanya untuk menyampaikan tetapi yang lebih penting adalah sampai, karena itu ayat-ayat Al-Quran menggambarkan ucapan orang yang takut kepada Allah SWT.

Qaulan sadida atau ucapan tegas (QS 33:70), qaulan tsaqila atau ucapan berbobot (QS 73:5), qaulan layyina atau ucapan lembut (QS 20:44), qaulan ma’rufa atau ucapan baik dan sopan (QS 4:5). Sungguh betapa banyak orang yang diam-diam itu tatkala berbicara mengagumkan karena ia berdiam, mendengar, merenung, baru berbicara, Subhanallah.

Rasulullah SAW tidak menyukai orang yang banyak bicara dan pandai beretorika (tsar tsarah), besarlah kebencian Allah kepada orang yang berbicara tetapi tidak mengamalkan. Orang mukmin itu apa yang di hatinya itulah yang diucapkan dan apa yang diucapkan itulah yang diamalkan komitmen dan konsisten. Ingat hal yang membatalkan pahala puasa adalah dusta dan ghibah, karena itu belajarlah diam di dalam puasa ini.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Profil Pribadi Muslim

Al Qur’an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rosulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam setiap aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim.

Bila disderhanakan, sekurang-kuurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas pribadi muslim :

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)

Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah SWT.

“ Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS 6:162)

2. Shohihul Ibadah (Ibadah yang benar)

Rosulullah bersabda : “ Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.”
Dalam melaksanakan setiap ibadah haruslah merujuk pada sunnah Rosul SAW tidak boleh ada unsure penambahan dan pengurangan.

3. Matinul Khuluq (Akhlaq Yang Kokoh)
Rosulullah diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau telah mencontohkan kepada kita akhlak yang agung sehingga diabadikan dalam Al Qur’an
“ Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS 68:4)

4. Qowiyul Jismi (Kekuatan Jasmani)
Shalat, puasa, zakat dan haji adalah amalan di dalam islam yang harus dilakukan dengan fisik yang sehat atau kuat.
Rosulullah SAW bersabda : “ Mu’min yang kuuat lebih aku cintai dari pada mu’min yang lemah.” (HR. Muslim)

5. Mutsaqqoful Fikri (Intelek dalam berfikir)
Salah satu sifat Rosul adalah fatonah (cerdas) dan AlQuran banyak mengungkapkan ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir.

“ Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, “(QS 2:136)

khamar[136] = segala minuman yang memabukkan.

“ (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS 39:9)

6. Mujahdatul linafsi (Berjuang melawan hawa nafsu0
“ Tidak beriman seseorang sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR.Hakim)

7. Harishun ala Waqtihi (Pandai maenjaga waktu)
Diantara yang disinggung nabi SAW adalah memanfaatkan momentum 5 perkara sebelum datang 5 perkara.

8. Munazhzhamun fi syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Bersungguh-sungguh,bersemangat,dan berkorban dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan urusan.

9. Qodiru alal Kasbi (memiliki usaha sendiri/mandiri)

Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi.

10. Nafi’un Lighoirihi (Bermanfaat bagi yang lain)
Merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim.

“Sebaik-baik manusia adalah yang yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR Qudhy dari Jabir ra)

  ©Template by Dicas Blogger.

TOPO